Wednesday, January 28, 2015

Dismenore (Nyeri Haid)


Artikel ini adalah reblog dari tulisanku di pharmaselfcare.wordpress.com, dengan beberapa perubahan.

Kebanyakan wanita menjelang dan hari awal menstruasi tentu sering mengalami nyeri haid, atau istilah medisnya dismenore. Dismenore sebenarnya ada 2, yaitu dismenore primer dan sekunder. Namun istilah dismenore yang dibahas di sini mengacu pada dismenore primer. Dismenore atau yang biasa dikenal dengan nyeri haid dicirikan dengan timbulnya gejala kram pada perut bagian bawah menjelang atau selama haid/menstruasi. Gejala tidak nyaman ini disebabkan karena tingginya kadar prostaglandin (PGF2a) dan leukotrien di dalam darah. Kedua mediator ini dapat merangsang terjadinya kontraksi (rasa seperti diremas-remas) untuk meluruhkan lapisan rahim sehingga timbul kram. Dismenore tidak berbahaya tetapi adakalanya dapat menimbulkan gejala nyeri yang mengganggu aktivitas.

Credit to owner

Apa penyebab dismenore?
Penyebab dismenore biasanya tidak jelas (idiopatik) dan sering diasosiasikan dengan faktor kejiwaan seperti stress.

Bagaimana gejala dismenore?
Dismenore menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Rasa nyeri ini bisa disertai dengan mual, muntah, letih, mudah marah, pusing, diare dan sakit kepala. Gejala biasanya timbul beberapa jam sebelum terjadinya haid/menstruasi dan akan berkurang dalam 48 jam (2 hari) hingga 72 jam (3 hari).


Bagaimana mengatasi dismenore?
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri pada dismenore baik itu dengan non obat atau obat.
Terapi non obat dapat dilakukan untuk meringankan gejala dismenore :

  • Kompres perut bagian bawah dengan botol berisi air panas atau bantalan panas guna membantu meredakan nyeri.
  • Minumlah banyak air dan batasi konsumsi garam dan minuman berkafein (seperti kopi dan teh) untuk mencegah terjadinya kelebihan cairan dan perut kembung.
  • Berolahraga secara teratur/rutin. Olah raga seperti aerobic dapat membantu mengatasi nyeri haid karena menyebabkan pelepasan hormone endorphin yang merupakan hormon alami tubuh untuk meredakan nyeri.
  • Makanlah makanan sehat yang kaya akan zat besi, kalsium, dan vitamin B seperti susu, keju, bayam, sawi, brokoli, kacang dan jeruk.
  •  Istirahat yang cukup.
  • Lakukan aktivitas untuk menghilangkan stres seperti pijat, yoga, atau meditasi untuk membantu meredakan gejala dismenore.
  • Pada saat berbaring, tinggikan posisi panggul hingga melebihi posisi bahu untuk membantu meredakan gejala dismenore.
Obat-obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter untuk meringankan gejala dismenore:
  • Antiinflamasi Non Steroid (AINS) Non Salisilat seperti Ibupofen merupakan obat pilihan pada dismenore. AINS Non Salisilat dapat meredakan gejala dismenore sedang sampai berat. Efek samping yang paling sering terjadi adalah rasa tidak enak pada lambung, mual atau rasa panas pada dada. Selain itu dapat memperbanyak darah menstruasi/haid. Dosis untuk dewasa : 1-2 tablet 200 mg setiap 4-6 jam (maksimal 1200 mg sehari) diminum bersama atau segera setelah makan.
  • Aspirin mampu mengatasi gejala dismenore ringan. Aspirin ini bisa menyebabkan meningkatnya darah menstruasi/haid dan sebaiknya dihindari pada remaja. Dosis untuk dewasa : 1-2 tablet 500 mg setiap 4-6 jam (maksimal 4000 mg sehari) diminum bersama atau segera setelah makan.
  • Paracetamol mampu mengatasi gejala dismenore ringan. Dosis untuk dewasa : 1-2 tablet 500 mg setiap 4-6 jam (maksimal 4000 mg sehari) dapat diminum dengan atau tanpa makanan. Kombinasi paracetamol dengan ekstak hiosiamin seperti pada Feminax® selain dapat meredakan nyeri juga kram pada perut.

Kapan dismenore harus dirujuk ke dokter?
Jika gejala dismenore tidak membaik dalam 48 jam (2 hari)
      Dismenore berat atau darah haid berlebihan.
Pada usia > 25 tahun dismenore terjadi bukan akan atau saat menstruasi/haid.
Riwayat penyakit inflamasi pelvis (pelvic inflammatory disease atau PID), kemandulan, siklus menstruasi yang tidak teratur, endometriosis, dan kista ovarium.
Penggunaan kontrasepsi intrauterine device (IUD)
Alergi aspirin atau AINS
Menggunakan warfarin, heparin, atau litium.
Menderita penyakit seperti maag, tukak peptik, dan gastro esophageal reflux disease (GERD)
Pendarahan



REFERENSI
Anonim, 2011, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 11, 77-79, 126-151, PT Medidata Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2011, ISO : Informasi Spesialite Obat Indonesia, Vol. 46, 16, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta.
Shimp, L.A., 2009, Disorders Related to Menstruation, dalam Berardi, R.R., Ferreri, S.P., Hume A.L., Kroon, L.A., Popovich, N.G., Newton, G.D., Remington, T.L., Rollins, C.J., Shimp, L.A. & Tietze, K.J. (Eds), Handbook of Nonprescription Drugs : An Interactive Approach to Self Care, Sixteenth Ed, 138-144, American Pharmacist Association, Washington DC.
Umland, E.M., Weinstein, L.C. & Buchanan, E.M., 2008, Menstruation-Related Disorders, dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G. & Posey, L.M., Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, Seventh Ed,.  1338-1340, Mc Graw Hill, New York.






No comments:

Post a Comment