Hyperandrogenism
dikarakterisikkan dengan kelebihan produksi androgen oleh ovarium dan/ kelenjar
adrenal. Gejala-gejala klinis hyperandrogenism meliputi :
1.
Unit Pilosebaceus
a.
Jerawat, ditandai dengan peningkatan produksi
sebum, follicular epidermal
hyperproliferation, proliferasi Propionibacterium
acnes, serta peradangan pada wajah dan sedikit pada punggung atau dada.
b.
Hirsutism, didefinisikan sebagai
pertumbuhan rambut yang berlebihan pada wanita di bagian tubuh di mana folikel
rambut paling sensitif terhadap androgen seperti punggung bawah, tulang dada,
perut, bahu, pantat, dan paha. Hormon androgen menyebabkan transformasi vellus
(rambut halus, lembut dan tidak berpigmen) menjadi terminal hair (hitam, tebal,
dan panjang).
c.
Androgenetic
alopecia merupakan kerontokan rambut akibat hormone androgen.
d.
Virilisasi, ditandai dengan hipertrofi klitoris, suara menjadi berat,
perkembangan otot, atropi payudara, hirsutism berat, kebotakan, dan menjadi
maskulin. Hyperandrogenisme yang
progresif juga menyebabkan oligomenorrhea
dan amenorrhea yang menjadi tanda
virilisasi.
2. Disfungsi
ovulasi yang dapat menyebabkan infertilitas. Disfungsi ovulasi ini berupa
kelainanan menstruasi seperti oligomenore, amenore, menorrhagia, metrorrhagia, nyeri panggul, premenstrual dysphoric syndrome dan gangguan fertilitas.
3. Gangguan
metabolik dan kardiovaskuler yang terkait dengan hyperandrogenism seperti insulin resisten DM tipe 2, dislipidemia,
hipertensi, obesitas, level serum asam urat dan plasminogen inhibitor-1 yang
tinggi.
Patofisiologi
Masih belum
jelas patofisiologi yang mendasari timbulnya hyperandrogenism dari PCOS (Polycistic
Ovary Syndrome). Secara umum, pasien dengan PCOS mempunyai kadar LH yang
tinggi karena meningkatnya sekresi GnRH dari hipotalamus dan meningkatnya
sensitifitas kelenjar pituitary terhadap GnRH. Meningkatnya kadar LH
menyebabkan meningkatnya sekresi androgen dari sel theca, yang mengakibatkan
meningkatnya kadar androstenedion dan testosterone yang dihasilkan ovarium. Hal
ini kemudian menyebabkan atresia dari perkembangan folikel dan mengganggu
perkembangan preovulasi folikel ovarium. Konversi peripheral androgen menjadi
estrogen menyebabkan kadar estrogen tonik lebih tinggi dari yang biasa
ditemukan secara normal pada fase folikuler awal dan menghambat keluarnya FSH
dari kelenjar pituitary. Pada wanita yang menderita PCOS terjadi penurunan
sensitifitas insulin yang menyebabkan hipersekresi insulin. Hiperinsulinemia
berasal dari stimulasi langsung insulin pada sel theca yang juga menyebabkan
sekresi androgen. Meningkatnya hormone androgen dan insulin menyebabkan
menurunkan produksi dan sekresi hepatic SHBG yang mana penurunan produksi SHBG
menyebabkan meningkatnya hormone testosterone bebas. Dalam jangka panjang,
resistensi insulin yang terkait dengan PCOS dapat menyebabkan meningkatnya
resiko penyakit metabolik (DM dan penyakit jantung). Tidak disekresikannya
estrogen dapat menyebabkan hyperplasia
endometrium dan endometrial carcinoma.
Terapi
Pemilihan terapi untuk hyperandrogenism didasarkan pada sumber hyperandrogenism tujuan
terapi, dan resiko serta manfaat jangka panjang. Terapi hyperandrogenism harus dimulai sedini mungkin untuk menghindari
perkembangan penyakit lebih lanjut. Intervensi yang bisa diberikan berupa
terapi nonfarmakologi yang meliputi,
a). Penurunan berat badan,
dapat mengurangi kadar hormone androgen, meningkatkan SHBG, dan memperbaiki
ovulasi. Pengurangan 7% berat badan dapat mengembalikan fertilitas, menurunkan
hirsutism, dan meningkatkan induksi ovulasi. b). Pembedahan tumor ovarium atau
virilizing adrenal, dan c). Elektrocauter pada pasien dengan PCOS. Sedangkan
terapi farmakologi meliputi :
1. Terapi dengan Glucocorticoid, yaitu prednisone
5-7,5 mg atau dexametason 0,25-0,5 mg diberikan setiap hari selama 2-3 bulan.
Jika kadar hormone androgen tetap tidak normal, maka dosis diturunkan menjadi 5
mg prednisone atau 0,25 mg dexametason selama 2-3 bulan, dan setiap waktu dosis
bisa diturunkan setengahnya atau dihentikan. Kadar hormon androgen harus diukur
setiap 3 atau 4 bulan selama 1 tahun untuk mendeteksi jika terjadi kekambuhan.
Penurunan kadar androgen dapat mengobati jerawat, efek minor pada hirsutism
(memperlambat laju pertumbuhan rambut dan melembutkanny), peningkatan aktivitas
ovulasi, kembalinya fertilitas, dan meningkatkan kepekaan terhadap efek
clomiphene sitrat pada induksi ovulasi.
2. Terapi dengan Kontrasepsi oral
Penggunaan generasi ketiga kontrasepsi oral progestin
yaitu desogestrel dan norgestimate dapat mengurangi jerawat dan hirsutism
ringan. Kombinasi kontrasepsi oral dan agen antiandrogen, khususnya
spironolakton sering digunakan pada pasien hirsutism berat atau alopecia.
Keuntungan utama adalah penurunan insidensi kanker endometrial dan ovarium.
Kontraindikasi pada pasien dengan riwayat phlebitis, migrant berat, peningkatan
berat badan, dan resiko peningkatan resistensi insulin. Penggunaan jangka
panjang bisa menyebabkan disfungsi ovulasi berat, yang bisa berkembang menjadi
anovulasi dan amenorrheic.
3. Terapi dengan Antiandrogen
Sprinolakton adalah antiandrogen yang bersaing dengan testosterone
dan DHT pada reseptor androgen. Dosis minimal 100 mg sehari dalam dosis terbagi
dan dapat ditingkatkan sampai 200 mg sehari. Efek samping meliputi pusing,
kelelahan, perubahan suasana hati, penurunan libido, sakit kepala, dan
mastalgia. Pada pasien dengan alopecia, penggunaan spironolakton dapat
meningkatkan pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan rambut.
Cypterone asetat penggunaannya belum disetujui oleh FDA, tetapi
dilaporkan efektif untuk terapi hyperandrogenism
dan memiliki aktivitas yang sama atau sama baik bila diberikan dengan ethinyl
estradiol dibandingkan dengan kombinasi spironolactone dan kontrasepsi oral.
Flutamide, dosis 250 mg per hari atau 2 kali sehari merupakan antiandrogen yang
menghalangi ambilan dan ikatan nuclear, sangat efektif untuk mengobati
hyperandrogensm tapi memiliki potensi walaupun jarang, menyebabkan
hepatotoksisitas fatal. Flutamide harus digunakan hati-hati hanya pada kasus
berat yang resisten dengan pengobatan lain.
Ketokonazol,
merupakan antifungi yang efektif untuk mengobati gejala hyperandrogenism tetapi
dapat menyebabkan hepatotoksisitas serius sehingga penggunaannya masih
dipertanyakan.
4. Terapi dengan 5α-Reductase Inhibitor
Finasteride dosis 5-7,5 mg sehari, menghalangi
konversi intraseluler testosterone menjadi DHT sehingga mengurangi jumlah DHT
yang berinteraksi dengan hormone androgen. Kadar plasma hormone testosterone
meningkat tapi DHT menurun. Efek samping ringan pada saluran GI dan tidak
mempengaruhi siklus menstruasi. Harus menghindari kehamilan selama penggunaan
obat karena menyebabkan ketidakjelasan alat kelamin pada janin laki-laki.
5. Terapi dengan
Insulin-Sensitizing agent
Merupakan terapi pilihan untuk pengobatan awal pada
wanita dengan hiperandrogenism terutama PCOS dan resistensi insulin, obesitas,
serta oligomenorrhea sedang sampai berat. Menunjukkan perbaikan klinis pada
hirsutism dan siklus menstruasi.
Metformin
Mengurangi manifestasi hyperandrogenism dan perbaikan
siklus menstruasi. Dosis awal 850 mg pagi hari bersama makanan kemudian
ditingkatkan 1700 mg setelah 2 sampai 3 minggu dalam dosis terbagi pada makan
pagi dan malam. Atau 500 mg 2 kali sehari ketika makan malam dan ditingkatkan
sampai 1000 mg 2 kali sehari. Efek samping paling umum pada GI adalah kembung,
mual, muntah dan diare pada awal terapi. Terjadinya asidosis laktat sangat
langka dan biasanya pada pasien dengan gangguan ginjal.
Thiazolidione
Digunakan secara tunggak atau kombinasi pada terapi DM
tipe 2. Efek utama dicapai dengan peningkatan sensitifitas insulin pada otot
dan jaringan adipose serta glukoneogenesis hepatic. Penurunan resistensi
insulin disertai dengan penurunan hiperinsulinemia tanpa penuranan berat badan.
6. Terapi
dengan GnRH agonis
Paling efektif pada ovarian hyperandrogenism berat, sediaan depot yang diberikan
interval bulanan. Diberikan bersamaan dengan estrogen dan progesterone untuk
menghindari hypoandrogenism dan
gejala vasomotor parah.
7. Terapi dengan bromocriptin yang merupakan reseptor
agonis dopamine diberikan 5-7,5 mg dalam dosis terbagi bersama makanan
diindikasikan pada wanita dengan hyperandrogenism
yang memiliki hyperprolaktinemia.
Bromocriptine memperbaiki siklus menstruasi pasien hyperprolaktenimia yang memiliki PCOS dan mengurangi hirsutism.
Pemberian bromocriptin harus dilakukan bertahap untuk mengurangi pusing,
hipotensi dan mual.
REFERENSI
Anonim, 2001, AACE Hyperandrogenism Guidlines, Endocr
Pract, 7(2), 121-134.
Hacker, N.F., Gambone, J.C., & Hobel, C.J., 2010, Hacker and Moore’s Essentials of Obstetrics
and Gynecology, 5th Ed, Elsevier Inc, Philadelphia.
Hoeger, K.M., 2007, Contemporary Endocrinology: Androgen Excess Disorders in Women:
Polycistic Ovary Syndrome and Other Disorders, 2nd Ed, Humana
Press Inc, Totowa.
Karnath, B.M., 2008, Signs of Hyperandrogenism in
Women, Hospital Physician, 25-30.





